Perbedaan Metode Penentuan Awal Puasa Ramadan 1447 H Jadi Fokus Publik

Kamis, 12 Februari 2026 | 12:24:42 WIB
Perbedaan Metode Penentuan Awal Puasa Ramadan 1447 H Jadi Fokus Publik

JAKARTA - Umat Islam di Indonesia akan menyambut Ramadan 1447 H dalam waktu dekat. 

Penentuan awal puasa tahun ini berpotensi berbeda antar organisasi keagamaan. Perbedaan ini muncul karena masing-masing pihak menggunakan pendekatan hisab atau rukyat yang tidak sama.

Muhammadiyah menggunakan perhitungan hilal global untuk menetapkan awal Ramadan. Berdasarkan maklumat resmi, 1 Ramadan 1447 H jatuh pada Rabu, 18 Februari 2026. Penetapan ini berlaku selama kriteria hilal global terpenuhi di wilayah mana pun di dunia.

Sementara itu, pendekatan lokal yang mengacu pada visibilitas hilal di Indonesia menunjukkan kemungkinan awal Ramadan pada Kamis, 19 Februari 2026. Perbedaan ini menekankan bagaimana kriteria lokal dan global dapat menghasilkan tanggal yang berbeda. Penentuan ini menjadi perhatian masyarakat agar dapat memulai ibadah puasa dengan tepat.

Sidang Isbat dan Pemantauan Hilal

Penentuan resmi awal Ramadan berada di tangan pemerintah melalui sidang isbat. Sidang ini disertai pemantauan hilal di berbagai titik di seluruh Indonesia. Hal ini bertujuan memastikan keputusan nasional dapat diterima secara luas oleh seluruh masyarakat.

Berdasarkan perhitungan astronomi, pada 17 Februari posisi hilal masih berada di bawah ufuk. Tingginya hilal berkisar antara minus 2,41 derajat di wilayah timur hingga minus 0,93 derajat di Sumatera Barat. Dengan demikian, secara rukyat hilal diperkirakan belum dapat terlihat.

Jika merujuk kriteria visibilitas minimum hilal, awal Ramadan kemungkinan besar jatuh pada Kamis, 19 Februari 2026. Penetapan ini mempertimbangkan tinggi hilal minimal 3 derajat dan elongasi 6,4 derajat. Dengan standar tersebut, hilal baru memenuhi syarat visibilitas di seluruh wilayah Indonesia pada 18 Februari.

Pendekatan NU dan Muhammadiyah

Nahdlatul Ulama masih menunggu hasil rukyatul hilal menjelang akhir Syaban. Berdasarkan kalender Almanak NU, awal Ramadan diperkirakan jatuh pada Kamis, 19 Februari 2026. Hal ini sejalan dengan pendekatan hilal lokal yang mensyaratkan visibilitas bulan di wilayah Indonesia.

Berbeda dengan NU, Muhammadiyah menetapkan awal puasa berdasarkan metode hisab global. Melalui perhitungan hilal global, 1 Ramadan 1447 H ditetapkan pada Rabu, 18 Februari 2026. Metode ini memungkinkan penetapan awal Ramadan ketika hilal sudah terlihat di wilayah manapun di dunia.

Perbedaan ini kerap memunculkan pertanyaan di masyarakat. Namun, masing-masing pendekatan memiliki dasar hukum dan kaidah yang jelas. Dengan memahami metode yang digunakan, umat dapat menghormati keputusan yang berbeda tanpa menimbulkan konflik.

Kriteria Lokal vs Global

Perbedaan tanggal bukan karena perhitungan astronomi yang berbeda, melainkan karena kriteria yang digunakan. Pendekatan hilal lokal menuntut visibilitas di wilayah Indonesia. Sedangkan pendekatan global memperhitungkan hilal yang terlihat di seluruh dunia.

Dengan pendekatan lokal, awal Ramadan jatuh pada Kamis, 19 Februari karena pada 17 Februari hilal masih berada di bawah ufuk. Namun dengan metode global, posisi hilal pada 17 Februari sudah memenuhi syarat di lokasi seperti Alaska. Hal ini memungkinkan awal Ramadan ditetapkan pada Rabu, 18 Februari.

Perbedaan kriteria ini juga memengaruhi masyarakat dalam menentukan jadwal sahur dan buka puasa. Paham akan perbedaan ini membantu umat menyesuaikan diri dengan kalender yang berlaku. Kejelasan informasi menjadi penting agar persiapan ibadah puasa berjalan tertib.

Imbauan Pemerintah dan Persiapan Umat

Pemerintah mengimbau masyarakat menunggu hasil sidang isbat sebagai keputusan resmi nasional. Sembari menunggu, umat tetap dianjurkan menghormati perbedaan metode yang digunakan masing-masing pihak. Hal ini penting agar ibadah puasa dapat dilakukan dengan penuh khidmat dan tertib.

Persiapan fisik dan spiritual menjadi bagian penting menyambut Ramadan. Masyarakat disarankan menata kegiatan sehari-hari dan mempersiapkan kebutuhan sahur serta berbuka. Dengan persiapan matang, momentum Ramadan dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan ibadah dan ketaqwaan.

Umat juga diingatkan untuk menjaga kesehatan selama puasa, terutama bagi anak-anak, orang tua, dan mereka yang memiliki kondisi khusus. Pola makan seimbang dan hidrasi cukup menjadi kunci agar ibadah puasa berjalan lancar. Selain itu, persiapan mental membantu menghadapi tantangan puasa secara optimal.

Terkini